Hujan meteor Perseid tahun 2016. Kredit: Brad Goldpaint |
Sebelum itu, mari kita kenali dulu apa itu hujan meteor. Meteor berasal dari batuan angkasa yang tertarik oleh gravitasi Bumi. Batuan angkasa ini merupakan sisa-sisa yang ditinggalkan sebuah komet dalam peredarannya mengelilingi Matahari.
Ketika batuan angkasa itu memasuki atmosfer Bumi dalam kecepatan puluhan kilometer per detik, batuan angkasa itu mengalami gesekan hebat dengan partikel udara. Gesekan tersebut kemudian menimbulkan energi panas yang dengan cepat membakar batuan angkasa tersebut. Sehingga batuan angkasa itu akan terlihat seperti cahaya yang melesat cepat dan kita kenal sebagai meteor.
Hujan meteor sendiri adalah peristiwa melesatnya banyak meteor sekaligus, dan mengamatinya membutuhkan waktu dan kesabaran, terutama jika Anda tinggal di lokasi yang dikelilingi oleh polusi cahaya yang buruk.
Menurut American Meteor Society, Anda bisa melihat 2 sampai 16 meteor di lokasi pengamatan yang benar-benar gelap. Dengan polusi cahaya, Anda mungkin tidak melihat apapun di langit kecuali rona kemerahan akibat kebocoran cahaya.
Cara terbaik untuk meningkatkan kesempatan Anda melihat meteor adalah:
Pertama, amati di waktu yang tepat!
Carilah meteor pada saat puncak hujan meteor terjadi. Pada puncaknya, akan lebih banyak meteor yang melesat di langit dibandingkan dengan ketika bukan malam puncak hujan meteor. Jadi, inilah yang dimaksud dengan "waktu yang tepat".
Kedua, amati mulai setelah tengah malam.
Mengapa setelah tengah malam? Mengapa tidak setelah Matahari terbenam saja biar tidak mengantuk dan tidak perlu begadang? Selepas tengah malam hingga beberapa jam sebelum fajar faktanya merupakan waktu yang tepat untuk mengamati lebih banyak meteor.
Bayangkan Bumi kita merupakan pesawat ruang angkasa yang melewati debu komet (yang terbakar menjadi meteor saat memasuki atmosfer Bumi). Saat selepas tengah malam sampai terbit fajar, Anda akan berada di sisi Bumi yang menghadap ke depan, yang mana akan menabrak puing-puing debu komet tadi.
Sisi Bumi yang akan berpapasan dengan meteoroid. Kredit: Kalastro.id |
Sebaliknya, pada sisi Bumi yang membelakangi arah gerak revolusi akan lebih sedikit terkena meteoroid, yakni sisi ketika selepas Matahari tenggelam. Itulah mengapa pengamatan hujan meteor tidak disarankan untuk dimulai setelah senja, sebab tidak akan ada meteor yang tampak!
Ketiga, cari lokasi dengan langit gelap.
Lagi-lagi, langit gelap menjadi faktor penting di sini. Seseorang yang berada di lokasi dengan langit gelap tanpa polusi cahaya akan mendapatkan lesatan meteor lebih banyak dari seseorang yang tinggal di area pekotaan atau lokasi yang sudah tercemar polusi cahaya.
Untuk itu, Anda bisa berkunjung ke area pedesaan, pegunungan, atau sebuah pulau yang jauh dari area kota. Kunjungan ini bisa dilakukan pada puncak hujan meteor yang ingin Anda amati.
Setidaknya, ada 11 hujan meteor yang bisa disaksikan sepanjang tahun, dengan waktu puncak masing-masing sebagai berikut:
- Hujan meteor Quadrantid, 4 Januari
- Hujan meteor Lyrid, 22 April
- Hujan meteor Eta Akuarid, 6 Mei
- Hujan meteor Delta Akuarid, 27 Juli
- Hujan meteor Perseid, 12 Agustus
- Hujan meteor Draconid, 7 Oktober
- Hujan meteor Orionid, 21 Oktober
- Hujan meteor Taurid Selatan, 5 November
- Hujan meteor Taurid Utara, 12 November
- Hujan meteor Leonid, 17 November
- Hujan meteor Geminid, 12 Desember
Nah, itulah sedikit kiat bagi Anda bila ingin melihat lebih banyak meteor pada peristiwa hujan meteor. Jadi, jangan sampai salah atau keliru lagi, ya. Selamat berburu meteor!
Sumber: American Meteor Society, Kalastro.id, Cornell University.