Akses artikel Premium dengan Astronomi+, mulai berlangganan.

Saran pencarian

Gerhana Matahari 29 Maret dan Penentuan Idulfitri 1446 Hijriah

Hari ini ada gerhana Matahari. Jadi, lebaran kapan? Besok atau lusa? Mari cari tahu lebih dalam!
Gerhana Matahari parsial. Kredit: Reuters

InfoAstronomy - Pernahkah kamu mendengar bahwa gerhana Matahari bisa menjadi tanda untuk menentukan awal bulan Hijriah, seperti 1 Syawal yang menandai Idulfitri?

Pada 29 Maret 2025, sebuah fenomena langit yang menakjubkan terjadi: gerhana Matahari parsial, momen ketika sebagian wajah Matahari terhalang oleh Bulan. Fenomena ini ternyata menjadi sorotan karena bertepatan dengan momen penting dalam kalender Hijriah, yaitu fase Bulan Baru yang menentukan akhir Ramadan dan awal Syawal.

Namun, apakah benar gerhana Matahari ini berarti fase Bulan Baru? Dan kapan sebenarnya Idulfitri 1 Syawal 1446 H akan dirayakan? Mari kita bahas secara mendalam.

Gerhana Matahari = Fase Bulan Baru?

Gerhana Matahari terjadi ketika Bulan berada di antara Matahari dan Bumi, sehingga sebagian atau seluruh cahaya Matahari tertutup oleh Bulan dari pandangan kita di Bumi.

Fenomena ini hanya bisa terjadi pada fase Bulan Baru, yaitu saat Bulan berada di posisi konjungsi—secara sederhana, ketika Bulan “berada di tengah” antara Matahari dan Bumi, sehingga sisi Bulan yang menghadap Bumi tidak mendapat sinar Matahari. Akibatnya, Bulan tidak terlihat dari Bumi, kecuali saat gerhana terjadi, di mana kita bisa melihat bayangan Bulan menutupi Matahari.

Namun, tidak semua fase Bulan Baru diikuti oleh gerhana Matahari—“hanya” pada fase Bulan Baru tertentu. Mengapa? Karena orbit Bulan miring sekitar 5 derajat terhadap bidang ekliptika Bumi (bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari).

Artinya, tidak setiap konjungsi Bulan-Matahari-Bumi berada dalam garis lurus sempurna untuk menghasilkan gerhana. Hanya ketika konjungsi ini terjadi bersamaan dengan posisi Bulan yang cukup dekat dengan bidang ekliptika, gerhana Matahari bisa terlihat.

Menariknya, dalam kalender Hijriah, fase Bulan Baru menjadi tanda-tanda akan terjadinya pergantian bulan. Namun, penanda ini bukanlah gerhana atau fase Bulan Barunya, melainkan hilal—sebuah fase Bulan sabit tipis yang terlihat setelah fase Bulan Baru.

Hilal biasanya diamati pada sore hari setelah Matahari terbenam untuk menentukan apakah bulan baru sudah dimulai. Jadi, meskipun gerhana Matahari menandakan fase Bulan Baru, itu tidak berarti hilal akan langsung terlihat pada hari yang sama.

Gerhana Matahari 29 Maret 2025: Apa yang Terjadi?

Pada 29 Maret 2025, gerhana Matahari terjadi dan menjadi perbincangan hangat, terutama di Indonesia, karena bertepatan dengan momen penentuan akhir Ramadan 1446 H. Gerhana ini adalah gerhana Matahari parsial, yang berarti hanya sebagian Matahari yang tertutup oleh Bulan.

Di Indonesia, gerhana ini tidak terlihat karena Indonesia bukan wilayah yang dilalui jalur gerhananya. Menurut Timeanddate.com, gerhana Matahari parsial ini dimulai pukul 15:50 WIB, mencapai puncaknya pada pukul 17:47 WIB, dan selesai pada pukul 19:43 WIB. Durasi totalnya sekitar 3 jam 53 menit, cukup panjang untuk diamati.

Namun, karena ini adalah gerhana parsial, tingkat kegelapan yang terjadi tidak terlalu signifikan. Gerhana Matahari parsial ini hanya akan terlihat di Eropa, Asia Utara, Afrika Barat Laut, Amerika Utara, dan kawasan Atlantik hingga Arktik, tingkat kegelapan maksimal hanya mencapai 93%. Artinya, meskipun Matahari tertutup sebagian besar, cahaya Matahari yang tersisa masih cukup terang untuk membuat langit tidak sepenuhnya gelap.

Nah, karena gerhana Matahari terjadi hari ini, 29 Maret 2025, yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1446 H, di mana biasanya merupakan waktu untuk pengamatan hilal, kemungkinan besar hilal tidak akan terlihat hari ini.

Di Indonesia, ketinggian hilal saat Matahari terbenam pada 29 Maret 2025 bervariasi, berkisar antara -3,29 derajat di Merauke, Papua, hingga -1,07 derajat di Sabang, Aceh. Angka negatif ini menunjukkan bahwa Bulan masih berada di bawah ufuk saat Matahari terbenam, sehingga hilal tidak mungkin terlihat pada sore itu.

Ketinggian hilal yang lebih tinggi, seperti 7,96 derajat di Merauke dan 11,48 derajat di Sabang, baru terjadi pada 30 Maret 2025, menandakan bahwa hilal kemungkinan besar baru terlihat pada hari itu.

Metode Penentuan Hilal

Dalam tradisi Islam, penentuan awal bulan Hijriah, termasuk 1 Syawal, dilakukan dengan dua metode utama: rukyat dan hisab. Namun, ada juga pendekatan lain yang disebut wujud hilal. Apa perbedaan ketiganya?

1. Rukyat Hilal
Metode rukyat adalah pengamatan langsung terhadap hilal pada sore hari tanggal 29 bulan Hijriah, dalam hal ini 29 Ramadan 1446 H. Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Syawal. Namun, jika hilal tidak terlihat, maka bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari, dan 1 Syawal jatuh pada hari berikutnya. Pemerintah Indonesia biasanya menggunakan metode ini, dengan melibatkan ribuan titik pengamatan di seluruh wilayah.

Pada 29 Maret 2025, karena ketinggian hilal masih di bawah ufuk saat Matahari terbenam, kemungkinan besar hilal tidak terlihat. Artinya, berdasarkan rukyat, 1 Syawal 1446 H kemungkinan besar jatuh pada 31 Maret 2025.

2. Imkan Rukyat (MABIMS)
Metode imkan rukyat adalah metode perhitungan astronomis yang digunakan oleh negara-negara anggota MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Kriteria MABIMS menetapkan bahwa hilal dianggap dapat dilihat jika pada tanggal 29 bulan Hijriah, ketinggian hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi (jarak sudut antara Matahari dan Bulan) minimal 6,4 derajat saat Matahari terbenam. Jika kriteria ini terpenuhi, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru, meskipun hilal belum tentu terlihat secara langsung.

Pada 29 Maret 2025, ketinggian hilal di Indonesia masih negatif, sehingga tidak memenuhi kriteria MABIMS. Namun, pada 30 Maret 2025, ketinggian hilal sudah jauh di atas 3 derajat, dan sudut elongasi juga memenuhi syarat. Oleh karena itu, berdasarkan metode ini, 1 Syawal 1446 H juga jatuh pada 31 Maret 2025.

3. Wujudul Hilal
Metode wujuduk hilal lebih sederhana: awal bulan baru ditetapkan jika tiga syarat terpenuhi, yaitu (1) telah terjadi konjungsi Bulan, (2) konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam, dan (3) saat Matahari terbenam, Bulan masih di atas ufuk. Berdasarkan metode ini, konjungsi Bulan pada 29 Maret 2025 terjadi pada pukul 17:58 WIB, setelah Matahari terbenam di sebagian besar wilayah Indonesia. Selain itu, Bulan masih di bawah ufuk saat Matahari terbenam. Oleh karena itu, 1 Syawal 1446 H menurut metode ini juga jatuh pada 31 Maret 2025.

Pemerintah Indonesia biasanya menggunakan kombinasi rukyat dan imkan rukyat, sementara organisasi seperti Muhammadiyah sering menggunakan metode wujud hilal. Namun, dalam kasus ini, semua metode sepakat bahwa 1 Syawal 1446 H jatuh pada 31 Maret 2025.

Kapan Idulfitri 1 Syawal 1446 H Dirayakan?

Berdasarkan data yang telah dijelaskan, 29 Maret 2025 adalah hari ketika konjungsi Bulan terjadi, menandakan fase Bulan Baru. Namun, karena hilal tidak terlihat pada sore itu—baik secara rukyat maupun berdasarkan perhitungan imkan rukyat—maka Ramadan 1446 H digenapkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, 1 Syawal 1446 H, atau Idulfitri, jatuh pada 31 Maret 2025.

Namun, ada catatan menarik: meskipun secara astronomis hilal tidak terlihat pada 29 Maret, gerhana Matahari yang terjadi pada hari itu menjadi tanda bahwa fase Bulan Baru memang telah terjadi. Sayangnya, karena gerhana ini terjadi pada sore hari, dan ketinggian Bulan masih di bawah ufuk saat Matahari terbenam, hilal tetap tidak dapat diamati. Oleh karena itu, penentuan Idulfitri tetap mengacu pada pengamatan hilal pada hari berikutnya, yaitu 30 Maret 2025.

Mengapa Hilal Tidak Terlihat pada 29 Maret 2025?

Ada beberapa alasan mengapa hilal tidak terlihat pada 29 Maret 2025. Pertama, ketinggian hilal saat Matahari terbenam masih negatif, artinya Bulan berada di bawah ufuk. Kedua, meskipun gerhana Matahari terjadi, itu tidak berarti hilal akan langsung terlihat setelahnya. Gerhana hanya menandakan konjungsi, tetapi untuk melihat hilal, Bulan harus berada di atas ufuk dan cukup jauh dari Matahari agar cahayanya tidak tenggelam oleh sinar Matahari senja.

Selain itu, kondisi geografis dan cuaca juga memengaruhi visibilitas hilal. Di Indonesia, yang terletak di sekitar khatulistiwa, posisi Bulan relatif rendah di langit saat konjungsi. Ditambah lagi, jika cuaca mendung atau berawan, pengamatan hilal akan semakin sulit.

Berdasarkan data ketinggian hilal, baru pada 30 Maret 2025 hilal berada pada posisi yang cukup tinggi untuk terlihat, yaitu antara 7,96 derajat di Merauke hingga 11,48 derajat di Sabang.

Kesimpulan: Idulfitri 1 Syawal 1446 H pada 31 Maret 2025

Setelah memahami semua informasi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa Idulfitri 1 Syawal 1446 H jatuh pada 31 Maret 2025. Penentuan ini didasarkan pada fakta bahwa hilal tidak terlihat pada 29 Maret 2025, baik melalui pengamatan rukyat, perhitungan imkan rukyat, maupun metode wujud hilal. Baru pada 30 Maret 2025 hilal memenuhi syarat untuk terlihat, sehingga 31 Maret 2025 ditetapkan sebagai hari raya Idulfitri.

Gerhana Matahari pada 29 Maret 2025 memang menjadi fenomena menarik yang menandakan fase Bulan Baru, tetapi tidak serta merta menjadi tanda pergantian bulan. Yang lebih penting adalah pengamatan hilal, yang menjadi tradisi utama dalam penentuan kalender Hijriah. Jadi, meskipun gerhana terjadi, Idulfitri tetap dirayakan dua hari setelahnya, yaitu pada 31 Maret 2025.

Fenomena seperti ini mengingatkan kita akan keajaiban alam dan bagaimana manusia sejak dulu menggunakan pengamatan langit untuk mengatur waktu. Bagi umat Islam, penentuan Idulfitri bukan hanya soal astronomi, tetapi juga soal tradisi, kebersamaan, dan makna spiritual. Jadi, mari kita sambut Idulfitri 1446 H dengan penuh suka cita pada 31 Maret 2025!

Sumber & Referensi:
  • Curran, M. (2025). A deep partial solar eclipse on March 29, 2025. EarthSky.
  • Dobrijevic, D. (2025). What time is the partial solar eclipse tomorrow?. SPACE.
  • Fitriyani, F., Isfihani, I., & Octasari, A. (2024). Implikasi Kriteria Imkanur Rukyat Mabims Baru Terhadap Penyatuan Awal Bulan Kamariah Di Indonesia. Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah, 7(2), 462-482.
  • Junaidi, A. (2018). Memadukan Rukyatulhilal Dengan Perkembangan Sains. Madania: Jurnal Kajian Keislaman, 22(1), 145-158.
  • Karim, M. F. R., & Mahsun, M. (2024). Kriteria Baru Mabims 3-6, 4: Upaya Penyatuan Kalender Hijriah di Indonesia Dalam Perspektif Maqāṣid Al-Syarī'ah. Astroislamica: Journal of Islamic Astronomy, 3(1), 51-75.
  • Ramadhan, R. K., & Maksum, M. N. R. (2024). Dinamika Rukyat Dan Hisab Dalam Penentuan Bulan Hijriah Menurut Muhammadiyah. Nashr al-Islam: Jurnal Kajian Literatur Islam, 6(3).
Ada perlu? Hubungi saya lewat riza@belajarastro.com

Posting Komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.